Dalam proses pencarian ide desain web dengan menelusuri bank design dalam otak, saya jadi teringat 8 tahun lalu ketika pertama kali merangkak dalam mempelajari pembuatan situs. Waktu itu saya tercengang melihat berbagai citra dapat bergerak secara dinamis membangun sebuah animasi (kalau tidak salah situs Coca Cola). Yupe, itulah pertama kali saya berkenalan dengan Flash. Bukan hanya animasinya saja yang membuat kagum, tapi bagaimana animasi tersebut dapat ditampilkan dalam halaman web. Bagaimana caranya? Setinggi apakah teknologi tersebut?
Ada untungnya juga pada saat itu mental saya dan bangsa ini masih bajakan, sehingga tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya. Segera saya bedah Flash 2.0 bersamaan dengan Director dan Dreamweaver (saat itu masih dipegang Macromedia, saat ini oleh Adobe).
Bermodal dengan kemampuan di bidang grafis dan pemrograman, ternyata “bermain” flash tidak terlalu menguras keringat juga, tinggal bagaimana caranya saya bersentuhan dengan dunia animasi. Hasilnya saya lebih rajin observasi begadang di warnet akibat dari koneksi rumah yang mentok di 56 kbps. Hasilnya beberapa project berhasil ditetaskan, yang kesemuanya berbentuk CD profile. Dari tour riders band, hingga presentasi proposal event berskala nasional.
Pada saat itu sebagian besar situs web menggunakan teknologi flash, yang membuat halaman web memerlukan waktu yang lama untuk loading. Apalagi infrastruktur koneksi negeri ini masih kelimpungan menghadapi serbuan ratusan kilo byte data. Itulah alasan saya segera mengarahkan flash pada media offline dengan mengandalkan interaksi animasi untuk repetisi. Dan fokus saya pun berpaling pada perkembangan php yang mulai menggerus keberadaan CGI.
Saya melihat pengembangan flash hingga saat ini cukup kabur dengan posisinya sebagai perangkat multifungsi. Posisinya pada produksi aplikasi dan presentasi multimedia beririsan dengan Director. Pada animasi web, flash cukup mendominasi hingga saat ini, terlihat dengan “kemunduran” pengembangan SVG (Scalable Vector Graphic) yang tadinya diharapkan dapat meredam kemajuan flash dan belum berkembangnya microsoft Silverlight (mungkin juga masih prematur untuk dinilai).
Inovasi yang brilian adalah flash merambah bidang video, terbukti dengan semakin populernya FLV (Flash Video) melalui youtube. Selain itu Flash juga cukup menjanjikan sebagai penyedia antarmuka data dinamis melalui Flex. Inovasi tersebut ternyata kurang dapat meningkatkan popularitas flash saat ini. Keberadaannya saat ini semakin tergerus oleh Web 2.0. Situs-situs web mulai berpusat pada data dan content berimbang dengan tampilan, yang dipopulerkan oleh blog. Fenomena ini mungkin dapat dilihat sebagai trend pengembangan web, yang berhubungan dengan kebijakan pemilihan keperluan komponen.
Mungkin Adobe bisa mempelajari spesifikasi SVG mengingat Adobe cukup aktif pada awal pengembangan SVG. Sehingga di masa depan Flash dapat memberikan inter koneksi yang lebih manusiawi dan lebih mudah diberdayakan.


Berikan komentar